4.11.10

Lensa Berbukaan Besar, Perlukah?

 


BEGITU populernya lensa vario (zoom lens) di kalangan pemotret, sehingga rasanya tak ada yang tak memilikinya. Selain karena sering digunakan, lensa vario terasa praktis dibawa, fisiknya cukup ringkas, dan mutu gambar yang dihasilkannya pun baik. Bahkan kini banyak kamera digital yang sudah dilengkapi lensa vario bawaan (tidak bisa dilepas-tukar). Padahal, dulu, hasil pemotretan dengan lensa vario sempat diragukan kualitasnya.
Saat ini mutu lensa vario bisa dikatakan tidak kalah dengan kualitas lensa tetap (fixed lens). Namun, secara teknis, ada kekurangan yang dimiliki lensa vario yaitu, kuat (bukaan) lensanya masih kecil. Sejauh ini, bukaan terbesar sebuah lensa vario adalah f/2,8 dan tidak sedikit  umumnya f/3,5 sampai f/5,6. Kendati kini pada kamera digital ada juga yang memiliki bukaan lensa varionya dari f/2,0 ¾seperti pada Canon Powershot G5 dengan lensa vario 7,2–28,8mm (f/2,0–3,0) atau yang terbaru dari Leica, Digilux 2 dengan  f/2,0–f/2,4  (7–22,5 mm).
Bandingkan dengan kuat sebuah lensa tetap. Lensa 50mm misalnya, rata-rata mempunyai bukaan terbesar f/1,4. Bahkan dulu Canon sempat membuat lensa 50mm f/0,95 untuk kamera Canon 7S. Belakangnan Carl Zeiss, produsen lensa terkenal di Jerman, membuat lensa Planar 50mm berkekuatan f/0,7 untuk kamera Contax/Yashica (Fotomedia No 5/I, 1990). Ini merupakan lensa terkuat dalam bidang fotografi (film), sampai saat ini.
Bagi yang belum tahu, kuat lensa (lens speed) jelas tertulis pada setiap lensa dengan kode 1:xx. Contoh, jika pada lensa 50mm tertulis 1:1.4, artinya panjang fokal lensa (F=) 50mm dan kuat lensa sekaligus juga bukaan terbesarnya f/1,4. Lensa vario 70-210mm 1:4-5,6 berarti kuat lensa pada F=70mm adalah f/4, sedangkan di posisi 210mm kuat lensa “bergeser” menjadi f/5,6.

Manfaat


Lensa berkekuatan besar biasanya sering digunakan para profesional dan fotojurnalis. Terutama bagi fotografer olahraga dan satwa, lensa tele dengan bukaan besar merupakan suatu keharusan. Bayangkan bila dikombinasikan dengan kamera SLR digital yang memiliki kemampuan menambah panjang fokal lensa sekitar 50 persen, terasa benar manfaatnya.
Manfaat lain yang bisa diperoleh misalnya, ketika kita memotret suatu objek/subjek tampil dengan pencahayaan alami (natural) dalam kondisi cahaya lemah. Selain menghindarkan hasil pemotretan yang tidak diinginkan (tidak jelas, kabur, goyang), gerak pemotret menjadi lebih bebas karena tidak menggunakan penyangga kamera dan lampu kilat. Apalagi kalau dipadukan dengan film ber-ISO tinggi (yang mudah dilakukan pada kamera digital).
Ada manfaat signifikan yang mungkin tidak dirasakan ketika menggunakan lensa berbukaan besar yaitu, saat memfokus sasaran pemotretan menjadi lebih mudah dan cepat (dengan fokus manual). Ini sangat terasa saat menggunakannya dalam suasana minim cahaya. Cobalah sekali waktu Anda memfokus suatu objek dengan panjang fokal lensa yang sama, tetapi berbeda kuatnya, misalnya dengan lensa 35mm f/1,4 lalu diganti 35mm f/2,8.
Memang, umumnya, hasil pemotretan dengan lensa berkekuatan besar lebih baik dari lensa berkekuatan kecil, misalnya beberapa lensa dengan daya rentang 80-200mm dan bukaan f/2,8 dibandingkan dengan yang kekuatannya f/4 atau lebih kecil. Tapi ini tidak selalu. Ambil contoh, lensa Nikkor AF 50mm f/1,8 ternyata ¾menurut beberapa majalah foto mancanegara dan situs fotografi¾  hasilnya lebih baik dibandingkan lensa setipe tapi dengan kekuatan f/1,4. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah, jangan berharap banyak bila foto yang dibuat secara teknis sangat baik tetapi tidak istimewa ide dan presentasinya.
Harus diingat pula, harga lensa-lensa berkekuatan besar relatif mahal dan semakin terus meningkat. Dan ini biasanya menjadi pertimbangan (sangat) besar bagi yang ingin memilikinya. Namun kalau kocek Anda memungkinkan, kenapa tidak mendapatkannya, bukan? 
Mengherankan
Sesungguhnya, apapun tipe lensa yang digunakan bisa menghasilkan foto yang baik, sepanjang penggunaannya tepat guna dan yang lebih menentukan adalah pemotret itu sendiri. Ingat ungkapan populer the man behind the camera? Mengenal dan mengoptimalkan kemampuan peralatan fotografi yang kita miliki jauh lebih penting ketimbang selalu memburu peralatan yang lebih canggih dan relatif mahal.
Meski mutu lensa mempengaruhi kualitas foto yang dihasilkan, namun harus diingat, untuk lensa yang diproduksi dekade ini, perbedaan hasil pemotretan antara lensa yang “canggih” dan tidak hanya terlihat secara signifikan jika diuji dengan teliti di laboratorium. Secara kasat mata jelas sukar membedakannya, selama kondisi lensa terlihat jernih (tidak berjamur, tergores, dan sejenisnya). Malah pada kamera digital, keefektifan sensor berupa CCD atau CMOS yang menangkap elemen-elemen gambar (pixel) yang lebih berperan. Semakin tinggi resolusinya, biasanya semakin baik citra foto yang dibentuk.
Hal lain yang sering terjadi dan cukup mengherankan ialah, ada kebiasaan di antara kita untuk tidak atau hampir tidak pernah menggunakan bukaan diafragma penuh (fully open) sewaktu memotret, kendati dalam kondisi dan situasi yang memungkinkan. Seolah-olah timbul kekhawatiran ada kesan “takut gagal” ketika memotret dengan bukaan terbesar lensa yang digunakan.
Jadi, bila Anda mempunyai lensa berkekuatan besar, jangan ragu menggunakan bukaan terbesarnya pada saat memotret kalau kondisi memang menghendaki demikian. Terutama jika Anda menggunakan lensa tele atau tele zoom, seringkali untuk mengkompensasi berat lensa harus diimbangi dengan kecepatan (cukup) tinggi, yang biasanya diperoleh dengan menempatkan diafragma pada angka terkecil (bukaan terbesarnya). Sebagai contoh, kalau Anda menggunakan lensa vario 80-200m f/2,8 maka atur diafragma pada f/2,8.
Harus disadari, untuk apa Anda membeli lensa Canon 24mm f/1,4 atau Nikkor 300mm f/2,8 misalnya, kalau Anda tidak pernah menggunakan bukaan terbesarnya? Kenapa tidak membeli lensa 24mm f/2,8 atau 300m f/4 yang harganya mungkin tidak sampai sepertiganya? Padahal salah satu faktor yang menentukan tinggi-rendahnya harga sebuah lensa adalah dari bukaan terbesarnya atau kekuatan lensa itu.***
2004 April 09 13:22:13

Apa sih Exposure Value (EV)?


EV = Exposure Value

Nilai EV adalah perpaduan antara shutter speed dan diafragma, bisa juga dikatakan sebagai nilai seberapa terang/gelap foto tersebut.

Angka EV adalah angka untuk 1 kali exposure (1 frame 1 take), tidak berlaku untuk double/multi exposure. Lebih lengkap lagi, EV adalah hasil perhitungan antara speed, diafragma, dan ISO. Berikut ini rumusnya:

EV = log2(aperture2 x (1/shutter speed) x (ISO sensitivity/100))

Dalam fotografi, EV adalah banyaknya sinar yang diperlukan untuk 1 kali exposure, angka EV juga melambangkan perpaduan yang pas antara shutter speed dengan diafragma untuk mendapatkan exposure normal, tidak kurang dan tidak lebih. Berikut ini adalah table EV dengan catatan ISO 100 :



Jadi misalnya, Anda berada di ruangan A mendapatkan speed 1/125 dan diafragma 5.6 serta ISO 100. Berarti nilai EV adalah 12. Dan ketika Anda berada di ruangan B Anda mendapatkan diafragma 4, maka untuk mendapatkan nilai EV (besar gelap/terang) yang sama, Anda sebaiknya menggunakan speed 1/250 Karena nilai EV 1/125 & 5.6 dengan 1/250 & 4 adalah sama.

Di dalam feature kamera, beda EV dapat kita atur sesuai dengan keperluan, mengubah beda EV di kamera sama dengan mengubah kompensasi exposure.Beda kompensasi ada yang 1/2 atau 1/3. Di kamera saya, Canon Powershot A70, dalam mode P,Av, dan TV, EV dapat diatur seperti hal diatas. Kalau dalam mode Manual (M), beda EV dapat dicari dengan mengkombinasikan speed dan diafragma.

Sering kita lihat dalam spesifikasi kamera ada tulisan (contoh): “SLR Light Meter : EV 1-20 at ISO 100 and f/1.4” Ini berarti jika Anda menggunakan lensa dengan diafragma f1.4 dan film ISO 100, pembuat kamera menjamin pembacaan nilai EV dari nilai 1 –20 akan akurat.

Akan tetapi jika anda menggunakan lensa dengan diafragma f/4.0, light meter kamera akan membaca beda 3 stop, maka akan pembacaan light meter akan akurat di nilai EV 4 – 23.

Catatan: dengan menggunakan lensa yang berbeda maka tingkat keterangan suatu foto akan berbeda. Tetapi jika menggunakan film dengan ISO yang berbeda, maka tingkat keterangan suatu foto akan sama.

30.10.10

experimen foto conseptual


 "keep ur mouth"
"mulutmu harimaumu"




 "relativitas"
"satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian"





 "mampukah kita seperti cahaya"





 "mencoba menangkap cahaya.. bisakah??"




 "mereka yang bertaruh dengan alam"





 "semuanya pasti punya akhir"







ISO rating for Film Speed

ISO singkatan dari International Organization for Standardization "dan peringkat kecepatan film yang digunakan untuk menunjukkan jumlah relatif cahaya yang diperlukan untuk memberikan eksposur yang tepat. Sebuah film normal dinilai pada ISO 100. Sebuah film yang dinilai pada ISO 200 akan memberikan eksposur yang tepat dengan hanya setengah cahaya dari film ISO 100, memungkinkan Anda untuk menembak di cahaya rendah atau dengan aperture kecil atau kecepatan rana lebih cepat. Film ISO 200 akan lihat sebagai film "lebih cepat". Ada film tersedia dengan kecepatan ISO 25 dengan ISO 1600. Jadi mengapa tidak menggunakan film lebih cepat sepanjang waktu, apa manfaat dari film lambat? Faster film butir individu memiliki struktur butir lebih qu'agglutiner menonjol untuk membentuk bintik-bintik yang terlihat dengan mata telanjang, terutama ketika Anda meniup gambar sampai dengan A4 atau di atas 35 mm negatif. Dalam beberapa keadaan, efek ini dapat digunakan secara kreatif, khususnya di Hitam dan putih, tapi sebagian besar tidak diinginkan.

ISO 100
ISO 1600
Kamera digital "lebih baik" biasanya tersembunyi dari setting manual, semacam simulasi pengaruh kecepatan film. Kamera saya, misalnya, Canon EOS 300 D, memiliki jangkauan ISO 100 hingga 1600. Fitur ini tidak tersedia bila Anda berada dalam diri sepenuhnya tetapi tersedia dalam semua modus lain. Saya cenderung untuk menjaga nilai ISO 200 sebagian besar sebagai struktur butir tidak signifikan lebih buruk dari ISO 100 dan itu memberi saya sebuah indeks tambahan f untuk bermain dengan. Ketika saya shooting tindakan cepat dan saya ingin membekukan aksi (tidak selalu terjadi - melihat kecepatan rana dan diafragma) maka saya akan memilih ISO 400 atau 800. Jika lampu sangat buruk atau malam hari yaitu waktu di dalam dan kemudian ditembak pada ISO 1600 sering lebih baik dari tembakan kabur disebabkan oleh penggunaan terlalu lambat kecepatan rana atau tidak ada gambar sama sekali.
Berikut adalah dua gambar, Anda terlihat sedikit Blow-Up dari pusat setiap gambar, yang atas ditembak pada ISO 100 dan lebih rendah untuk 1600. Perbedaannya cukup diucapkan di perbesaran ini (yang 100% zoom), tetapi pada ukuran lebih normal, perbedaan tersebut lebih sulit untuk melihat. gandum menjadi lebih jelas pada bagian gambar cukup sederhana, seperti langit. Tentu saja, kedua tembakan ditembak di siang hari. Efeknya akan lebih jelas dalam foto yang diambil di tingkat bawah cahaya.

Beberapa kamera digital memiliki teknologi pengurangan noise. Waktu berikutnya Anda perlu mengambil gambar di bawah cahaya rendah, coba beberapa tembakan dengan dan tanpa itu dan bandingkan hasilnya. Juga memiliki melihat perangkat lunak pengedit foto Anda. Program seperti Photoshop memiliki filter yang dapat menghilangkan atau setidaknya mengurangi kebisingan. Perhatian, meskipun hal ini tidak mempengaruhi terlalu banyak ketajaman gambar secara keseluruhan. Temukan Canon kamera digital yang terbaik untuk Anda, berdasarkan jenis foto yang Anda ambil, anggaran dan fitur yang diinginkan.

foto panggung festifal indie sastra unpad 2010


















29.4.10

speed shutter

Meskipun, sebagaimana dijelaskan dalam paparan, kecepatan rana, dan lubang yang dipertukarkan dalam hal paparan, masing-masing memiliki efek sendiri yang unik pada gambar. Mari kita lihat pada kecepatan rana bahwa efek pertama mereka adalah mudah dipahami. Kita akan melihat ke bagian bawah halaman bukaan.









Tidak hanya objek bergerak menderita terlalu lambat kecepatan rana. Jika Anda memegang kamera di tangan Anda daripada harus dipasang pada tripod, Anda akan melihat tanda-tanda 'kamera goyang' (gerakan yaitu kamera) dengan kecepatan rana lebih lama dari 1/125th per detik. Aman sepasang tangan akan dapat pergi dengan 1/60th atau bahkan 1/30th per detik tetapi kamera akan lebih baik dipasang pada tripod. Sekali lagi saya akan mengatakan pada titik ini bahwa perbedaan antara kesalahan dan efek biasanya derajat. Sejumlah kecil blur akan menjadi kesalahan, sedangkan yang benar-benar kabur lintasan cahaya bisa menjadi efek yang menarik. Ini semua masalah meyakinkan penampil bahwa Anda bermaksud untuk melakukannya. Tip - Bila kecepatan rana sangat penting karena benda bergerak, itu ide yang baik untuk mengatur kamera untuk 'Shutter Speed ​​Prioritas' mode. Ini adalah tempat Anda memilih kecepatan rana dan bukaan kamera memilih pas dengan bacaan ringan.
Tentu saja, jika Anda mengambil foto objek statis seperti rumah-rumah dengan kamera yang dipasang pada tripod yang kokoh, Anda dapat meninggalkan rana terbuka selama yang Anda inginkan tanpa blur. Sebuah oleh menarik-produk, jika Anda bisa melihat gambar yang diambil benar-benar tua di bagian pertama abad ke-19, Anda akan melihat bahwa hampir tak seorang pun di foto sama sekali. Itu karena waktu pemaparan begitu lama orang sudah berjalan melalui adegan tanpa yang ditawarkan. Untuk alasan yang sama gambar-gambar yang benar-benar awal, dalam Niépce, di tahun 1830-an, hampir tidak ada bayangan karena membutuhkan waktu seharian untuk mengekspos piring dan matahari bergerak di langit menerangi adegan dari kedua belah pihak.
Contoh Shutter Speed ​​Berikut adalah dua foto dari menembak air mancur sama dengan kecepatan rana yang berbeda. Gambar di atas diambil di kecepatan yang cukup cepat, sekitar 1/500th dari satu detik dan tetes air membeku di udara pertengahan. Foto di bawah ini diambil menggunakan kecepatan rana lebih lambat, dengan kata lain rana terbuka untuk waktu yang lama, yang memungkinkan air bergerak cepat untuk kabur sedikit. Saya tidak ingat apa setelan kecepatan rana untuk menembak ini, tapi saya pikir ini adalah tentang 1/30th per detik karena kamera ini genggam dan mangkuk cukup tajam. Pada kecepatan rana lebih lambat dari 1/30th per detik cukup sulit untuk memegang kamera cukup stabil untuk mendapatkan gambar yang tajam. Anda perlu menggunakan tripod. mangkuk air mancur statis tetap sama di kedua foto. Sementara itu, menyesuaikan kecepatan rana yang diperlukan untuk menyesuaikan aperture dalam arah yang berlawanan untuk memastikan bahwa jumlah yang sama diberikan pemaparan film. Jika Anda menggunakan setting 'aperture prioritas'.